Jumat, 06 Mei 2011

tapi bukan aku

Biarkan orang lain menjalani kehidupan yang kecil, tetapi tidak buatku.
Biarkan orang lain berdebat tentang hal-hal kecil, tetapi tidak buatku.
Biarkan orang lain mengeluh atas apa yang mungkin terjadi, tetapi tidak buatku.
Biarkan orang lain menangisi kecil sakit, biarkan mereka putus asa, biarkan mereka menjadi dendam dan ingin membalas dendam, tetapi tidak buatku.
Biarkan orang lain meninggalkan masa depan mereka, dan menanggalkannya di tangan orang lain, biarkan mereka menjadi materialistis dan sombong, tetapi bukan aku.
Biarkan orang lain tidak bersyukur dan berhenti berdoa, tapi tidak buatku! 
Biarkan orang lain menyerah, tetapi tidak buatku! Sekali lagi aku katakan, tidak! tidak buatku. 

mereka adalah mereka dan aku adalah aku. Sebab disini aku tahu, siapa yang percaya dan yakin akan sesuatu, maka dia akan mampu menggapainya.
Allah pernah berfirman dalam Alquran, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku.”
so? mulai hari ini dan detik ini aku akan slalu berprasangka baik pada sang kuasa. dan ketika aku memberikan energi positif pada alam maka alampu akan memberikan enrgi positif pula buatku.
semangat !!!

Jumat, 22 April 2011

selamat jalan sahabat...

pada hari Jum'at perasaan kangen itu muncul kembali. ga tau kenapa tiba-tiba aku kangen banget sama sahabatku itu, akhirny ku putuskan sms dia, Saat itu pukul dua siang.., ku ambil hape dan kucari sms yang kusimpan di draft kemaren itu dan langsung saja kukirimkan. Sambil tiduran aku menunggu jawaban.
Kutunggu 5 menit.., 10 menit.., 15 menit tak ada jawaban, hingga setengah jam berlalu. Aku heran karena tak seperti biasanya, koq ngga ada respon ya?. Dalam hati aku bergumam, Owh.., mungkin aku pake nomor hape yang berbeda dari nomor yang biasa kugunakan. Waktu itu aku ngga pake nomor tetapku. Tapi aku yakin dia hapal betul bahasa yang biasa kugunakan. Masih kuingat jika terlambat menjawab di jawaban smsnya selalu disertai kata-kata manis “ Maafin gw ya diy, td gw lagi …, bla bla bla “ Tapi ini hampir satu jam, tidak biasanya.
dan akhirny smsku pun di bales, ya malam itu kita sempat smsan n ngobrol banyak banget via videocam, ada raf juga waktu itu. asyik banget, rame...
aku bener-bener ngerasa happy tiap kali deket mereka berdua, ya maklum..ian n raf sahabat lamaku. uda 5 th kita temenan. dan alhamdulillah komunikasi slalu lancar, klo aku kenapa-kenapa slalu aja mereka orang pertama yang ada di sampingku.
besok paginy, sebelum subuh dy tlp aku, lagi-lagi kita ngobrol panjang lebar, sampai lupa waktu. hoho...tp males karena tiba-tiba dy bilang "diy, hari ini prasaan gw ga enak banget, huft...oya diy gw minta maaf ya klo ada salah m lu" iiih males banget, napa coba tiba-tiba ian bilang gitu. tapi yaudalah ga terlalu ku respon juga.

Tepat  jam 14.18  di hari sabtu kemarin. tgl 16 april tepatny hapeku tiba-tiba berdering.
Bergegas kuambil hape yang tadi sempat kutaruh diatas kulkas, lantas kubuka kemudian kubaca…, sejenak aku tertegun, lantas tiba-tiba jantungku berdegup keras, aku kaget karena dikata pertama jawaban sms itu tertulis:  ” Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun..,” Tetapi aku belum ngeh, aku mencoba berbaik sangka saja, ” Owh mungkin ada saudaraku yang meninggal dunia atau mungkin juga raf kirim sms iseng ” kataku dalam hati. (maklum raf sedikit jahil anaknya.)
Tetapi setelah kugulir ke bawah, lanjutan sms itu:  ” Telah berpulang ke Rahmatullah  saudara tercinta tercinta Ian Putra Prawira pada Sabtu 16 April 2011 pukul 14.18 karena….., dst. (maaf, nama dan tempat aku samarkan).
Astaghfirullah…!! barulah aku tersadar, bagai petir di siang bolong, jawaban sms itu membuat jantungku semakin lemah saja dan otakku masih sulit untuk percaya.  “ Oh Tuhan, dia telah tiada..!!” ku ucapkan berulang kali dan aku meratap dalam hati.
Selama dua jam lebih aku terdiam, aku termenung, aku sedih.., sediiiiiiih banget !!. Ngga nyangka Tuhan memanggil dia begitu cepat hingga aku ngga sempat doakan dia di akhir hayatnya.
masih ga percaya, seketika itu aku telpon rafi..lalu dengan suara parau raf menjawab telponku dan mengiyakan berita duka itu.
Ya Allah, air mataku turun secara deras...ga mungkin, tadi pagi kita sempet telpon-telponan, sempet canda tawa.
Berkali-kali terlontar kata maaf di bibirku, sebab teringat pula dulu aku pernah berkali-kali membuat dia kecewa. Setelah lama termenung, aku bangkit dari tempat tidurku, aku harus lakukan sesuatu sebagai wujud rasa sayang terakhirku. Segera aku bergegas ambil wudhu lantas sholatkan dia, sholat ghaib tentunya sebab dia nun jauh di seberang sana.
” Allahummaghfir laha warhamha wa afihi wa’fu anha wakrim nuzulahu wawassii’ madkhalahu . Ya Allah ampunilah dia, kasihanilah dia, sejahterakanlah dia dan maafkanlah kesalahannya, hormatilah kedatangannya dan luaskan tempat diamnya “.
Aaghh.., andai saja ku tanggapi permintaan maafnya tadi pagi, mungkin akan ada cerita lain. Mungkin masih ada kesempatan mengiringi kepergiannya walau hanya dengan doa. Tapi aku patut bersyukur pula, sebab Tuhan telah beritahu aku lewat sebuah firasat. Ya..,rasa kangen sehari sebelum kepergiannya itu bagiku sebuah firasat,sebab hanya berselang sehari sebelum dia wafat.
Selamat jalan sahabatku…, ku-ikhlaskan kepergianmu, aku kan slalu merindukanmu….. :( 
ian, dian, rafie...sahabat forever !!!

missing you, my best friend

Entah kenapa hari ini aku sangat merindukan seseorang.
Ya, aku sungguh sedang merindukannya.
Seseorang yang dulu selalu siap untuk melindungiku.
seseorang yang selalu membela ketika temen sebayaku iseng mengganggu
seseorang yang selalu setia menasehatiku
seseorang yang slalu ada untukku

masih inget waktu kita jalan bareng bertiga di paragon. makan es cream bareng sambil ketawa-ketawa...crita-crita tentang kuliah dan masih inget waktu kamu kasih ku brownies kesukaanku,waktu raf ganggu ku makan brownies, kamu bukanny belain malah ketawa ngakak. puas banget ngeliat aku sama raf belepotan.. 

Ian
Aku sedang bersedih
tapi kau tak melihat sedihnya
bahwa perasaan lama ini mengusik, menghujani
sejak kau tinggalkan aku
Sekarang aku kandas dalam banjir
kau lihat aku selalu menjadi seorang pejuang
tapi tanpamu,..
aku sepertinya menyerah!

Sekarang aku tak bisa menyanyi suatu nyanyian
seperti jalan yang dicitakan
ya, aku tak mengira kebaikan

aku akan selalu menyayangimu layaakny sahabat sejati dan aku akan di sana
untuk selamanya dan suatu hari nanti
tuk selalu menjaga kau dekat..

Manakala kau ucapkan doamu
berusaha tuk pahami
aku tlah melakukan kesalahan
karena aku hanya seorang manusia

manakala aku menjagamu terjaga
manakala aku menarikmu mendekat
harus dengarkanlah
Perhatikanlah wajahku
tiada janji yang tak kan kupenuhi

Tapi , jika Dia memberiku satu kesempatan
kita kan kembalikan mimpi lama kita bertiga dan hidup lama kita

Kita kan temukan suatu tempat
dimana matahari masih bersinar
senyum selalu merekah
dan tiada kata berpisah….

Senin, 28 Maret 2011

Sang Bulan

teng..... teng..... teng.....
sudah waktunya buat matahari untuk tidur, dan ini pasti waktunya bulan untuk bermain.
bulan selalu senang jika sudah waktunya bermain, tapi tidak hari ini...
hari ini dia terlihat sedih...

"aduhh..... aku bosan... kapan sih waktunya aku main??"
"tidur udah... makan apalagi... ngapain lagi dong?"
"aku pingin main....."
"oiya, aku mau coba ngintip matahari ah.."

(terdengar suara orang-orang berbicara, tertawa, menangis, teriak, dan masih banyak lagi)
bulan melihat matahari sedang bersinar diantara para awan, tapi bulan mendengar banyak suara orang disana.

"kok saat matahari muncul, banyak terdengar suara orang-orang, ada yang gembira, kesal, senang, menangis, teriak, rame sekali. sedangkan saat aku muncul yang terdengar hanya suara hewan malam yang menemani ku bermain. ini tidak adil."

teng..... teng..... teng.....
bulan pun bergantian bermain dengan matahari, bulan melewati matahari tanpa menyapa matahari. matahari pun terkejut dan heran, karena tidak biasanya bulan seperti itu. bulan selalu ceria dan baik kepada semua orang.

"kenapa ya bulan? apa aku punya salah sama dia?"
"ahh mungkin bulan sedang tidak enak badan"

bulan pun memancarkan cahayanya dengan redup. dia pun tidak ikut bernyanyi dengan para bintang. bintang-bintang pun heran.

"bulan, ayoo ikut kami bernyanyi... kami tidak sabar mendengar suara merdumu..."
"tidak, bintang.. aku sedang tidak ingin bernyanyi, kalian saja yang bernyanyi, aku mau disini saja...."
"kamu kenapa? kamu sakit bulan?"
"tidak, aku baik-baik saja kok..."

bintang-bintang pun menyerah dan meninggalkan bulan sendirian.
"kemana ya orang-orang yang tadi berteriak, bermain, menangis? kemana mereka semua? kenapa mereka menghilang saat aku datang? kenapa??"
"apa aku ini menyebalkan? apa sinarku membuat orang malas keluar? apa orang-orang tidak suka melihatku?"
"apa cuma orang-orang itu yang senang padaku? apa cuma orang-orang yang memakai sarung dan membawa kentongan yang senang padaku? kenapa orang-orang lain tidak?"
bulan menangis sesegukan, dia tidak mau ada salah satu bintang atau makhluk lainnya melihat atau mendengar dia menangis.

salah satu bintang yang berdiri tidak jauh dari sana ternyata mendengar keluh kesah bulan. dia pun mendekati bulan, dan bermaksud menenangkan bulan.
"bulan.... jangan menangis lagi..."
"ehh, bintang.. aku tidak menangis kok.."
"sudahlah, aku mendengar kok kekesalanmu tadi.."
"....."
"jangan sedih bulan, orang-orang itu tidak membencimu kok... orang-orang itu juga sayang pada mu, sama seperti mereka sayang kepada matahari..."
"tapi kenapa saat aku muncul, mereka malah menghilang?"
"bulan.... semua itu sudah di atur... matahari harus muncul dan ditemani oleh orang-orang dibawah sana... matahari harus menemani mereka beraktivitas... sedangkan kamu di takdirkan untuk menemani orang-orang tidur dibawah sana.. mereka tidak membencimu kok..."
"lalu siapa yang akan menemaniku bermain? matahari ditemani oleh suara orang-orang dari bawah sana.."
"dan kamu ditemani oleh suara nyanyian kami, para bintang di langit, disisimu... kamu bisa berbicara dengan kami, kamu bisa ikut bermain bersama kami.. tapi tidak dengan matahari, matahari hanya bisa mendengarkan tanpa bisa ikut berbicara dengan mereka, matahari hanya bermain bersama para awan, yang kadang menutupi sinarnya."
"kasian juga ya matahari...."
"kalian memang memiliki tugas yang berbeda, tapi kalian sama-sama istimewa dimata mereka."

Selasa, 08 Maret 2011

Perih dan Sepi Menepilah

Perih…
Dapatkah engkau keluar
Karena kau terlalu egois memenuhi hatiku sendiri
tanpa menyisakan ruang buat yang lain
kau datang disaat bintang ku hilang ditelan malam
kau datang disaat mentariku tenggelam oleh awan gelap
Aku hanya ingin tidak terlalu lama memeliharamu
(aku memang masih mencintainya)
Sepi..
Bisakah kau jauh dari hidupku
Saat dia tak ada dari pandanganku
Saat dia masih menemaniku dalam mimpi malamku
Namun menghilang dikala aku membutuhkannya dalam wujud nyata
(aku ternyata masih merindukannya)
Perih
Bisakah aku memarahimu
Bisakah aku mengumpatmu
Sedangkan engkau adalah penghuni jiwaku
Saat aku kehilangan cakrawala cintaku
Yang bersinar dulu di sisi baratku
Takkala dia mulai menyinariku dengan cintanya
Namun kini telah terjadi gerhana yang menelan cahayanya
(aku memang masih mencintainya)
Sepi..
Apakah aku bisa memintamu untuk tidak menyertai langkahku
Karena aku masih mengikuti langkahnya yang dulu
Karena aku masih menelisik jejaknya yang hilang
(aku ternyata masih merindukannya)
Perih..
Bisakah kau kubuang ketepian hati
Agar rongga bekasmu kuisi dengan dia yang baru
Akankah aku menemukan ramuan penyembuhmu
Sedangkan hatiku masih tersayat olehnya
(aku memang masih mencintainya)
Apakah aku bisa membuang perih dan sepi ini
Karena ia adalah bayanganku
Perih..
Sepi..
Maafkan aku karena akulah yang telah menciptakanmu
Maafkan aku sebab akulah yang telah mencarimu
Karena itu adalah keterbatasanku saja
Tetapi sungguh, itu tidak sengaja dan aku memang sangat membencimu
Yang telah merongrong jiwaku
Yang telah meracun urat darahku
Aku ingin kau hilang
Jikapun tidak hilang, aku mohon menepilah dulu dan jauhlah dulu
Agar aku bisa mengisi tempat mu dengan kebahagiaan dan cinta yang baru.

Minggu, 13 Februari 2011

Surat Untuk sahabatku

Hai Sahabat, sedang apa kau di sana?
Ngng, sebenarnya aku benci menulis surat ini. Seharusnya aku datang ke tempatmu, berbicara empat mata, dari hati ke hati denganmu. Tapi aku tak sanggup. Ada yang menahan langkah kakiku ke tempatmu. Tak kuat aku menatap matamu untuk mengatakan semua ini.
Aku merindukanmu. Tentu saja. Kita sudah berbulan-bulan tidak ngobrol. Tau kan, ngobrol yang benar-benar ngobrol. Selama ini kita bertemu, membicarakan banyak hal, tapi tidak benar-benar ngobrol. Sudah berbulan-bulan kita tidak benar-benar tertawa. Entah menertawakan hal yang lucu atau kebodohan-kebodohan kita. Aku lupa kapan kita menangis karena tertawa berlebihan. Atau menangis karena haru atau karena kita saling berbagi kesedihan. Aku merindukan itu semua. Sungguh. Aku bertemu denganmu beberapa hari yang lalu. Tapi aku tidak melihatmu, tidak ngobrol denganmu, tidak membagikan perasaanku, kisahku padamu, dan kita tidak tertawa atau menangis bersama lagi. Kau duduk di sebelahku, tapi aku tidak merasa mengenalmu. Sepertinya, hati dan logikamu berada di mana entah. Kau hanya ada di situ, tapi tidak memerhatikan aku yang begitu haus mendengar ceritamu, merasakan sedihmu, atau juga sukacita yang kau rasakan.
Yang paling menyedihkan buatku, dan mungkin ini juga yang membuat berat langkahku untuk menjumpaimu adalah kau bilang kau baik-baik saja waktu aku tanya apa kabarmu. Dan kita sama-sama tahu, kau berbohong. Kalau kau baik-baik saja, aku tidak akan merindukanmu sedemikian rupa. Kalau kau baik-baik saja, sahabat kita, yang juga kangen padamu, tidak akan datang padaku dengan air yang menumpuk di pelupuk matanya.
Kami merindukanmu. Tentu saja. Kini kau terasa begitu jauh. Meski kita baru bertemu beberapa hari lalu. Meski kita masih membicarakan hal-hal, yang katanya untuk kepentingan jiwa-jiwa di luar sana. Kau ada di dekatku, tapi terasa sangat jauh, bahkan lebih jauh dari kekasihku yang ada di pulau lain. Hatiku merasa, ngng, ini sangat pedih.
Aku tak mau menyalahkanmu. Atau mungkin memang aku yang salah. Karena aku berhenti berkata-kata ketika kau bilang kau baik-baik saja meski aku tahu kau tidak begitu. Karena aku tidak melanjutkan mencecarmu dengan tanya padahal aku tahu kau tidak sedang baik-baik saja, supaya aku tahu apa yang benar-benar kau rasakan saat ini.
Ini bukan waktunya menyalahkan siapa-siapa. Atau bertanya-tanya kenapa kau harus menyembunyikan isi hati dan logikamu dari aku, pun dari sahabat kita yang lain. Aku cuma mau kau tahu, aku kangen. Sahabat kita yang lain juga begitu. Jadi, begitu kau membaca ini, dan tahu apa yang sekarang kurasakan, maukah kau mengirimkan pesan atau langsung datang kepadaku? Ngng, tolong siapkan pundakmu, karena aku juga kangen menumpahkan tangisku di situ.

aku kangen banget sama sahabat2ku...miss u all..

Selasa, 01 Februari 2011

Sepi

Aku merasa sepi . . .
Aku merasa hampa . . .
Kenapa?
Aku tidak tahu jawabannya ! !

Uh, ku tarik nafas ku dalam-dalam
Ku coba merenung kenapa bisa terasa hampa
Tapi masih juga tak menemukan jawabannya

Aku heran, kenapa ini bisa terjadi?
Kenapa hampa, kenapa terasa garing
Ku coba dengan segala kekuatan tuk mengetahuinya

Ya . . .
Aku tahu jawabannya
Jawaban yang tak pernah ku sadari
Jawaban yang tak pernah ku pikirkan sebelumnya

Aku kesepian . . .
Aku merasa kesepian, bukan karena tak ada kawan
Bukan karena hal-hal lain . . .
Melainkan diri ku yang menutup diri tuk itu semua

Entah sejak kapan, aku menutup semuanya
Hingga perlan-lahan aku merasa sepi
Sepi yang menyiksa . . .
Sepi yang tak menyenangkan

Uh . . .
Aku bingung . . . .
Setelah mengetahui jawabannya !!
Apa yang harus ku perbuat?

Bagaimana aku harus mengusir sepi ini?
Aku sudah tak kuasa menahan gejolak hampa dalam hidup ku
Harus kah, aku membuka lembaran lama?
Atau membuka lembaran baru . . .

Dari pada tersiksa dengan perasaan hampa
Yang kian hari menyiksa ku dalam relung jiwa ku
Yang kesepian karena ku tutup hati ku?


Ya ALLAH, wahai pemilik napas, yang setiap apa yang ENGKAU ciptakan adalah ilmu bagi yang lain, terima kasih sudah mengajarkan saya betapa indahnya sepi … sepi adalah ketika hanya saya dan ALLAH yang saling berbicara bahkan tanpa kata