Senin, 15 Agustus 2011

Masa depan ada di tanganku

“Miskin dan kaya adalah nasib ” ini adalah mitos yang berlaku di dalam masyarakat, khususnya di negara berkembang. Tak terkecuali di negara kita, Indonesia.
Kita sering mendengar, bahkan mungkin termasuk di antara kita pernah berucap; miskin sudah merupakan nasib kita. Bagaimanapun kita bekerja keras, tidak mungkin berubah, karena ini sudah suratan takdir. Sebaliknya, kalau nasib kita sudah ditentukan kaya dari “sononya”, maka usaha apa pun, bahkan kerja “seenaknya” bisa menjadikan kita sukses dan kaya.
Mitos seperti ini, sadar atau tidak, sudah diterima secara dogmatis di dalam masyarakat kita. Ditambah dengan mitos-mitos modern yang destruktif, seperti; bila kita berpendidikan rendah (hanya lulusan SMA/SMP/bahkan SD) maka spontan yang timbul di benak kita; kita sulit maju, sulit sukses dan kaya.
Dengan persepsi seperti ini, jelas kita telah terkena penyakit mitos yang menyesatkan. Hal ini akan mempengaruhi sikap mental dalam praktek di kehidupan nyata, sehingga menghasilkan kualitas hidup “ala kadarnya” atau sekedar hidup. Jika mitos ini dimiliki oleh mayoritas masyarakat kita, bagaimana mungkin kita bisa mengentaskan kemiskinan untuk menuju pada cita cita bangsa , yaitu; masyarakat adil-makmur dan sejahtera.
Kemiskinan sering kali merupakan penyakit dari pikiran dan hasil dari ketidaktahuan kita tentang prinsip hukum kesuksesan yang berlaku. Bila kita mampu berpikir bahwa kita bisa sukses dan mau belajar, serta menjalankan prinsip-pinsip hukum kesuksesan, mau membina karakteristik positif, yaitu; punya tujuan yang jelas, mau kerja keras, ulet, siap belajar, dan berjuang, maka akan terbuka kemungkinan-kemungkinan atau aktifitas-aktifitas produktif yang dapat merubah nasib gagal menjadi sukses. Miskin menjadi kaya! Seperti pepatah dalam bahasa Inggris “character is destiny”, kharakter adalah nasib.
Tidak peduli bagaimana saya hari ini, dari keturunan siapa, berwarna kulit apa, atau apa latar belakang pendidikan saya. Ingat, setiap orang punya hak untuk sukses!!!
Seperti kata-kata mutiara yang saya tulis; Kesuksesan bukan milik orang-orang tertentu. Sukses milik Anda, milik saya, dan milik siapa saja yang benar-benar menyadari, menginginkan, dan memperjuangkan dengan sepenuh hati.
Hancurkan mitos “miskin adalah nasib saya!”
Bangun karakter dan mental sukses!!!
Karena kita adalah penentu masa depan kita sendiri!
cayoo dian..cayooo smangat !!!

Senin, 18 Juli 2011

ketika diri ne nyaris lelah

Aku pernah mengikuti acara trekking. Jalannya jauh dan menanjak, diawali dengan turun tangga yang curam dan cukup jauh, lalu setelah sampai di bawah, dilanjutkan dengan mendaki jalan yang menanjak. Kadang ada jalanan yang licin dan tidak ada pijakan yang rata sama sekali. Huahhh... aku benar-benar mau berhenti saja dan tidak melanjutkan perjalanan, ingin rasanya menyerah! Toh semua orang bakal maklum kalau aku menyerah, tidak akan ada yang marah cuma karna aku kelelahan.
Tapi aku mencoba terus saja melangkahkan kaki, menyusuri jalan setapak dengan keringat bercucuran dan nafas terengah-engah. aku banyak berhenti dan beristirahat sebentar, karena aku juga harus menahan lecet di kaki. Tapi meskipun harus tertinggal agak jauh di belakang, akhirnya diri ne bisa menyelesaikan trek secara keseluruhan tanpa mengikuti beberapa orang yang melewati jalan pintas (ternyata banyak juga yang memotong jalan lewat jalan pintas!).
Rasanya sneng banget... rasanya aku sudah berhasil melampaui kemampuan diri sendiri! Perasaan yang sulit dilukiskan...haha (lebai).
Dari situ Lalu aku mulai berpikir, apakah perjalanan hidup yang aku lalui juga seperti ini yah? Atau mungkin lebih tepatnya disebut perjalanan iman? Ada saat-saat di mana diri ne seolah-olah tidak mampu lagi untuk melanjutkan perjalanan, dan kelelahan yang tak tertahankan. Lelah luar biasa...
Tapi terkadang terlalu meremehkan kemampuan diriku sendiri atau mungkin kadang terlalu memanjakan diri ne dan berkata, "Aku ga bisa... STOP! Aku menyerah! Aku cape dengan smua ne!" Lalu berhenti di tengah jalan, mulai membandingkan antara "trek" ku dengan "trek" orang lain. Aku lupa, bahwa ada Kekuatan lain yang akan menopang ku. Ku juga lupa, bahwa tujuan ku diciptakan itu berbeda-beda satu dengan yang lain (yang akhirnya juga membuat proses hidup yang dijalani juga berbeda). Ku lupa bahwa yang lebih tahu sampai mana batas kekuatan diri ne adalah Dia. Kini ku sadar bahwa selama ne aku selalu mengukur segala sesuatu dengan perkiraan ku, yang belum tentu benar.
Jadi inget kata-kata seseorang "dek, klo lu uda merasa lelah n putus asa? Cobalah diam sejenak, tutup kedua mata dan tarik nafas dalam-dalam serta sedikit mainin bibir lalu buka mata n berteriak *Aku Pasti Bisa!*"
meski putus asa, Tapi ak dian setyo kan terus melangkah setapak demi setapak. Meskipun lambat, meskipun lelah, meskipun hampir putus asa, terus melangkah...!!
smangat !!! Banzai !!! Cayoo !!!

Kamis, 23 Juni 2011

Bagaikan Embun

Pagi adalah awal mula bergantinya hari. 
Alangkah indahnya jika kita mengawali pagi hari dengan hati bening dan pikiran jernih sebening dan sejernih embun pagi. 
Dengan hati bening dan pikiran jernih, paling tidak kita mempunyai energi positif untuk menghadapi berbagai kemungkinan dalam menjalani aktivitas harian. 
Dengan hati bening dan pikiran jernih kita juga tidak akan terbelenggu dengan bayang-bayang negatif dari kejadian-kejadian masa lampau.

Kawan, tahu wujud embun kan? 
Yupz, embun berupa titik-titik air yang biasanya menempel di atas dedaunan atau terdapat pada benda dan permukaan tanah. 
Embun terbentuk akibat pengembunan uap air dari udara di sekitarnya. 
Proses penguapan itu terutama terjadi pada malam hari. 
Pagi harinya kita bisa melihat endapan tetes-tetes air itu. 
Jika kita perhatikan, embun berwujud titik air bening dan jernih.

Embun hanya bisa kita lihat pada pagi hari karena seiring sinar mentari yang makin memanas, embun akan menghilang. 
Nah, embun bisa menjadi contoh bagi kita untuk memulai hari. 
Hendaknya kita mengawali hari dengan hati bening dan pikiran jernih seperti embun. 
Yuk, kita usahakan! :D

Memandangmu dalam diam

Didedikasikan tuk sartika & keked sobatku.

Kau berdiri gagah di ujung sana
Aku hanya mampu 
memandangmu dari jauh
Sosokmu menjulang tinggi
Tanganku yang pendek ini
sulit meraihmu
Tubuhku yang kecil ini
tak bisa merengkuhmu

Diam-diam aku hanya mengagumimu
Pesonamu amat menyihir
Mendatangkan rasa ingin yang kuat
Menghadirkan tekad yang bulat

Semakin memandangmu
Rinduku menyeruak
Kapankah aku bercengkrama denganmu?
Kapankah kuhabiskan waktu di dekatmu?

Rasanya tak sabar lagi
Menahan gejolak ini
Rasanya tak kuat lagi
Membendung keinginan ini
Tunggu hingga kudatang

Selasa, 17 Mei 2011

Kawinan

Pagi hari-
“Check.. check.” *DUG*
Si pedangdut memukul mic-nya sembarangan layaknya musisi-musisi kacangan.
Aku bangun kaget. Aah.. bapaaak mbaaak.. really? Have to be this early? Memang kemarin udah diwanti-wanti sama bokap. Siap-siap aja, tetangga belakang mau kawinan. Udah pasang panggung gede yang pas banget nempel sama dinding belakang rumah. Oke, seharusnya gak lama. Akan aku tolerir ini sampai nanti siang.

Siang Hari-
Akhirnya, setelah 5 jam nonstop, suasana sepi. Berbagai macam cara sudah mereka lakukan. Dari nyanyi Live on stage, sampai open mic, sampai puter kaset. Harusnya mereka udah puas. Lega.. berarti sekarang saatnya aku makan siang.
“JEDER!!!!”
Astaga! Apaan tuh? Sial! Nyaris aja keselek ayam.
“JEDAR PLETAR PLETAR PLETAR!!!! Ahahahahahah!!!!”
Suara petasan berbunyi tanpa henti diselingi tawa anak-anak. Hebat, pedangdut istirahat makan siang, sekarang anak-anak yang enggak bisa diem. Sabar.. tarik nafas.. ini hari bahagia tetangga belakang, maklumilah. Oke setidaknya lihat sisi baiknya. Ini ga akan bertahan sampai malam. Ya kan?

Sore Hari-
Oke.. ralat. Aku sangsi ini akan selesai. Barusan sambil mandi, mendengar pengumuman dari MC kawinan belakang
“Mohon perhatian bapak ibu yang baru hadir untuk segera menempati kursi. Acara akan kita mulai” WHAT?! AKAN? Kita mulai?
“Kepada para tetangga yang merasa terganggu dengan suara-suara yang akan kami keluarkan, kami mohon dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya. Sekali lagi kepada..”
Gayungku jatuh. Nafsu mandi ku hilang. Busa-busa shampoo dikepala mulai meleleh.
“DUNG TAK TAK DUNG BLETAK” Music pun mulai.
“aaaa~yoooo Bang Joooohhnnn GOYAAAAANGGGG!!” Suara pedangdut wanita terdengar manja. Para abang-abang yang merasa terpanggil membalas dengan teriakan membahana. Great.. pedangdut ini pasti merasa seperti Diva.
Sambil tersenyum pahit ku angkat gayungku. Kulanjutkan mandi sambil terus berdoa.. Ya Tuhan.. ku berikan pagi, siang, dan sore hari ini untuk kedua mempelai yang berbahagia. Hanya satu pintaku.. berikan padaku si malam dengan temannya yang ku idamkan. Si Sepi. Itu saja. Kabulkanlah ya Tuhan.

Malam Hari lewat pukul 10-
Ku coba pejamkan mataku sambil terus menekan bantal. Mereka pasti sudah gila. Teriakan semakin malam semakin kencang, musik semakin gila, stereo semakin menggelegar. Si pedangdut terus bernyanyi seakan urat lehernya tidak mengenal lelah. Sepertinya malam ini aku dan sepi tidak berjodoh. Ku rasa Tuhan juga merasa bising sehingga dia menutup telinganya hari ini. Tidak apa-apa Tuhan.. Aku sangat mengerti. Kalau aku adalah kamu, sudah ku kirim petir biar stereonya meledak.
Hhh.. Dangdut.. Truly is the music of my country.
Malam ini aku akan tidur dengan jempol terangkat. Hari ini aku kalah. Ambillah sepiku yang memang sudah dari pagi belum jadi milikku. Tolong sampaikan padanya, aku minta maaf. Aku tak tahu betapa berharganya dia, sampai datang hari dimana tetangga belakang kawinan. Besok aku akan berdoa, minta rumah baru sama Tuhan, jauh.. jauh jaaaauhhhh dari sini. Ku yakin besok Kau sudah bisa mendengarkan doaku. Ya kan Tuhan?

Sabtu, 07 Mei 2011

sejatinya hidup

Birunya langit hari ini mengajariku akan suatu hal, segalanya akan selalu berganti seperti indahnya langit hari ini, sebelumnya aku melihat mendung menutupi hamparan luas perkamen langit, namun angin mematuhi melukis takdirMu mengganti kelabunya langit mejadi biru nan elok, langit membiru seolah menitipkan senyuman matahari, mereka ingin kita selalu tersenyum, tersenyumlah untuk sekarang dan nanti sampai waktu cukup untuk melepas kita pergi, karena dengan senyuman segala hal yang menyiratkan kesedihan akan berangsur menghilang dan membuat segalanya terasa lebih mudah, kala kesedihan itu menghampiri ingatlah setiap kebahagiaan yang kita terima selama ini, bukankah porsi kebahagiaan lebih banyak dibandingkan kesedihan, lalu apa lagi yang kita risaukan? Karena setiap kesedihan atau kebahagiaan akan segera berakhir dan berganti dengan peristiwa lagi, sebuah proses pembelajaran untuk memahami mengapa kita hidup saat ini.
Aku berjalan hanya dengan mata hati, bernafas hanya dengan tekad, aku mendaki penuh dengan teka teki, dimanakah matahariku?
Matahariku selalu bersinar, namun makna sinarnya hanya mengenai mereka yang mau membuka diri, meskipun cahayanya seolah menerpa setiap insan di bumi ini, tapi tiap tiap yang menerima berbeda mengartikannya, ada yang bingung mengapa matahari ini kadang bersinar kadang redup, ada yang sedih kenapa matahari redup hari ini, ada yang risau akankah dapat melihat lagi indahnya matahari hari ini, dan ada pula yang berfikir mengapa matahari tidak pernah lelah bersinar? Kita berada dimana, kita berhak memilih.
Matahariku selalu bersinar, takdirnya memberi arti kehidupan ini, aku pun ingin seperti dia dengan segala kemampuan yang aku miliki saat ini, berusaha memberi arti, bukankah kita terlahir di dunia ini adalah dengan takdirNya, dan kita terlahir di dunia ini bukan tanpa tujuan melainkan membawa pesan- pesan Tuhan, hidup ini pilihan, dan aku telah putuskan, pilihan yang wajib aku perjuangkan. Aku dalam masa proses, tapi keyakinanku sangat kuat, aku harus berjuang kamu bisa aku pun bisa!
Bila Aku jatuh nanti, Aku siap Melompat lebih Tinggi.
Tetap Semangat dan Hadapi setiap Episode Hidup dengan Senyuman
Everyone feels pain
But surely, after suffering satisfaction will arrive
Step by step, I want find that light

Jumat, 06 Mei 2011

tapi bukan aku

Biarkan orang lain menjalani kehidupan yang kecil, tetapi tidak buatku.
Biarkan orang lain berdebat tentang hal-hal kecil, tetapi tidak buatku.
Biarkan orang lain mengeluh atas apa yang mungkin terjadi, tetapi tidak buatku.
Biarkan orang lain menangisi kecil sakit, biarkan mereka putus asa, biarkan mereka menjadi dendam dan ingin membalas dendam, tetapi tidak buatku.
Biarkan orang lain meninggalkan masa depan mereka, dan menanggalkannya di tangan orang lain, biarkan mereka menjadi materialistis dan sombong, tetapi bukan aku.
Biarkan orang lain tidak bersyukur dan berhenti berdoa, tapi tidak buatku! 
Biarkan orang lain menyerah, tetapi tidak buatku! Sekali lagi aku katakan, tidak! tidak buatku. 

mereka adalah mereka dan aku adalah aku. Sebab disini aku tahu, siapa yang percaya dan yakin akan sesuatu, maka dia akan mampu menggapainya.
Allah pernah berfirman dalam Alquran, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku.”
so? mulai hari ini dan detik ini aku akan slalu berprasangka baik pada sang kuasa. dan ketika aku memberikan energi positif pada alam maka alampu akan memberikan enrgi positif pula buatku.
semangat !!!