Minggu, 13 Februari 2011

Surat Untuk sahabatku

Hai Sahabat, sedang apa kau di sana?
Ngng, sebenarnya aku benci menulis surat ini. Seharusnya aku datang ke tempatmu, berbicara empat mata, dari hati ke hati denganmu. Tapi aku tak sanggup. Ada yang menahan langkah kakiku ke tempatmu. Tak kuat aku menatap matamu untuk mengatakan semua ini.
Aku merindukanmu. Tentu saja. Kita sudah berbulan-bulan tidak ngobrol. Tau kan, ngobrol yang benar-benar ngobrol. Selama ini kita bertemu, membicarakan banyak hal, tapi tidak benar-benar ngobrol. Sudah berbulan-bulan kita tidak benar-benar tertawa. Entah menertawakan hal yang lucu atau kebodohan-kebodohan kita. Aku lupa kapan kita menangis karena tertawa berlebihan. Atau menangis karena haru atau karena kita saling berbagi kesedihan. Aku merindukan itu semua. Sungguh. Aku bertemu denganmu beberapa hari yang lalu. Tapi aku tidak melihatmu, tidak ngobrol denganmu, tidak membagikan perasaanku, kisahku padamu, dan kita tidak tertawa atau menangis bersama lagi. Kau duduk di sebelahku, tapi aku tidak merasa mengenalmu. Sepertinya, hati dan logikamu berada di mana entah. Kau hanya ada di situ, tapi tidak memerhatikan aku yang begitu haus mendengar ceritamu, merasakan sedihmu, atau juga sukacita yang kau rasakan.
Yang paling menyedihkan buatku, dan mungkin ini juga yang membuat berat langkahku untuk menjumpaimu adalah kau bilang kau baik-baik saja waktu aku tanya apa kabarmu. Dan kita sama-sama tahu, kau berbohong. Kalau kau baik-baik saja, aku tidak akan merindukanmu sedemikian rupa. Kalau kau baik-baik saja, sahabat kita, yang juga kangen padamu, tidak akan datang padaku dengan air yang menumpuk di pelupuk matanya.
Kami merindukanmu. Tentu saja. Kini kau terasa begitu jauh. Meski kita baru bertemu beberapa hari lalu. Meski kita masih membicarakan hal-hal, yang katanya untuk kepentingan jiwa-jiwa di luar sana. Kau ada di dekatku, tapi terasa sangat jauh, bahkan lebih jauh dari kekasihku yang ada di pulau lain. Hatiku merasa, ngng, ini sangat pedih.
Aku tak mau menyalahkanmu. Atau mungkin memang aku yang salah. Karena aku berhenti berkata-kata ketika kau bilang kau baik-baik saja meski aku tahu kau tidak begitu. Karena aku tidak melanjutkan mencecarmu dengan tanya padahal aku tahu kau tidak sedang baik-baik saja, supaya aku tahu apa yang benar-benar kau rasakan saat ini.
Ini bukan waktunya menyalahkan siapa-siapa. Atau bertanya-tanya kenapa kau harus menyembunyikan isi hati dan logikamu dari aku, pun dari sahabat kita yang lain. Aku cuma mau kau tahu, aku kangen. Sahabat kita yang lain juga begitu. Jadi, begitu kau membaca ini, dan tahu apa yang sekarang kurasakan, maukah kau mengirimkan pesan atau langsung datang kepadaku? Ngng, tolong siapkan pundakmu, karena aku juga kangen menumpahkan tangisku di situ.

aku kangen banget sama sahabat2ku...miss u all..

Selasa, 01 Februari 2011

Sepi

Aku merasa sepi . . .
Aku merasa hampa . . .
Kenapa?
Aku tidak tahu jawabannya ! !

Uh, ku tarik nafas ku dalam-dalam
Ku coba merenung kenapa bisa terasa hampa
Tapi masih juga tak menemukan jawabannya

Aku heran, kenapa ini bisa terjadi?
Kenapa hampa, kenapa terasa garing
Ku coba dengan segala kekuatan tuk mengetahuinya

Ya . . .
Aku tahu jawabannya
Jawaban yang tak pernah ku sadari
Jawaban yang tak pernah ku pikirkan sebelumnya

Aku kesepian . . .
Aku merasa kesepian, bukan karena tak ada kawan
Bukan karena hal-hal lain . . .
Melainkan diri ku yang menutup diri tuk itu semua

Entah sejak kapan, aku menutup semuanya
Hingga perlan-lahan aku merasa sepi
Sepi yang menyiksa . . .
Sepi yang tak menyenangkan

Uh . . .
Aku bingung . . . .
Setelah mengetahui jawabannya !!
Apa yang harus ku perbuat?

Bagaimana aku harus mengusir sepi ini?
Aku sudah tak kuasa menahan gejolak hampa dalam hidup ku
Harus kah, aku membuka lembaran lama?
Atau membuka lembaran baru . . .

Dari pada tersiksa dengan perasaan hampa
Yang kian hari menyiksa ku dalam relung jiwa ku
Yang kesepian karena ku tutup hati ku?


Ya ALLAH, wahai pemilik napas, yang setiap apa yang ENGKAU ciptakan adalah ilmu bagi yang lain, terima kasih sudah mengajarkan saya betapa indahnya sepi … sepi adalah ketika hanya saya dan ALLAH yang saling berbicara bahkan tanpa kata

Senin, 31 Januari 2011

Aku benci kampusku

Saya Dian Setyo Maharani, ya biasa di panggil dian atau sebutan-sebutan lain yang sering di lontarkan para sahabat saya .
Saya bukan seorang aktivis kampus, bukan pula seorang mahasiswa yang sering ikut demo-demo, serta bukan pula seorang kritikus-kritikus yang seperti tikus. Tapi saya hanya ingin belajar untuk mendapatkan sebuah secerca cahaya masa depan sebagai amanat orang tua yang telah menggelontorkan berjuta-juta biaya untuk mempercayai saya agar belajar dengan tekun. Orang tua seorang lulusan S1 dan S2, berat juga tapi keinginan orang tuaku sebenarnya tidak muluk-muluk amat cita-citanya terhadap anaknya, ya mereka hanya menginginkan anaknya lebih baik darinya. Mereka hanya ingin melihat anakny sukses nan bahagia. Tapi entah mengapa sejak pertama kali ku menginjakkan kaki di kampusku ini, tak ada sedikitpun rasa bahagia. Aku tak menemukan apa yang ku cari, aku tak menemukan diriku di situ. Yah, seakan-akan begitu diri ini menginjakkan kaki di kampus, hilang semua semangat dan jati diri yang ada di diriku. 

Hampa! 
Kosong! 
Ini bukan diriku, saya benci kampusku! Saya benci!
Tapi sejenak ku berfikir jikalau diri ini benci bagaimana dengan orang tuaku? Mereka pasti sangat kecewa.
Oh my god! streeeeeeeeeees..........!!!! why this life must be difficult?? why I should make "something" in my life??

Kamis, 27 Januari 2011

Surat cinta untukmu kasih...

Kekasih, surat ini sengaja kutulis untukmu. Hanya karena aku tak begitu yakin mampu bertanya kenapa setiap musim juga hujan yang tiba-tiba kita terima acapkali tak meninggalkan namanya di tepi mimpi dan tempat tidur kita. Seperti kita yang tiba-tiba jatuh cinta pada seseorang, lalu pada doa, juga seringkas kenangan dan batas-batas.

Usia kita, kekasihku, tak perlu renta dalam cinta.
Lalu siapa yang berani berjalan lebih cepat dari cinta?
Tapi aku sejenak hanya ingin sendiri dengan mata yang terpejam dan berharap dapat melakukan sesuatu yang terbaik untuk mengenang seseorang. Mungkin aku akan mencatat kenangan itu dalam baris-baris puisi, catatan harian, sebuah cerita kecil atau bahkan mencoba melukis garis-garis wajahnya dipermukaan kertas atau kanvas. Dan kini, aku ingin menulis surat untukmu, sekedar mengenangmu dalam sebuah kerinduan yang paling hening, sekedar menyampaikan sesuatu dengan sederhana dan terus terang. Lalu kelak malam mengendap senyap, dan aku akan menemukan ruang yang cukup mesra untuk menafsirmu lewat puisi, juga doa.
Mei tahun lalu, bukan, barangkali Juni atau Januari tahun ini. Entahlah. Tapi aku ingat, hujan dan puisi tentangmu menyekapku dalam labirin kerinduan yang panjang. Ada kenangan kembali terdengar seperti suara gerimis di daun-daun, tanah dan atap rumah—serupa bunyi detik jam atau suara hela menarik napas. Sekejap puisi pun menjadi lengkap ketika disebuah tikungan jalan aku bertemu denganmu—sebuah tikungan yang sampai kini tak pernah bisa aku luruskan dengan beberapa kata dan semesta air mata. Cinta datang tanpa memberi kita waktu yang panjang untuk membicarakannya…
Aku tak pernah setuju bahwa aku pernah jatuh cinta dengan tergesa-gesa pada seseorang seperti anak kecil yang tiba-tiba jatuh cinta pada sebuah mainan di etalase toko tepi jalan. Setiap orang memang cenderung demikian tergesa-gesa menerima cinta sebagai sesuatu yang gampang dan sepenuhnya indah, tanpa luka. Padahal Gibran pernah bilang bahwa cinta adalah “mahkota sekaligus penyaliban.” Tapi kerapkali kita menolak satu sisi perih dari keping cinta bermata dua.

Minggu, 23 Januari 2011

Perasaanku

Aku tak selalu baik dan juga tak selalu benar, Sekali waktu aku begitu baik dan juga kadang sangat bodoh. Aku hanya manusia biasa seperti yang lain, punya asa yang kadang-kadang tidak bisa diterima akal. Aku bersyukur bisa mengalami ini semua, perjalanan jiwa menemukan jati diri, aku senang bisa punya rasa syukur atas nikmat yang Tuhan berikan kepadaku. Aku sadari semakin aku bersyukur semakin banyak kebaikan yang kutemukan. Aku temukan, tidak semua mesti difikirkan secara logika, aku hanya bersyukur dan bermimpi setinggi langit… tanpa rasa takut, khawatir atau cemas. Kulakukan segala sesuatu dengan tulus menggunakan perasaanku, kujalani cobaan dengan sabar dengan perasaanku, ku bersyukur yang semua terjadi membuat aku lebih kuat dan lebih dewasa.
” Aku mencintai hidupku apa adanya”

Sabtu, 15 Januari 2011

Sebuah Pengakuan

Aku merindukannya dengan sadar, nyata sekali tak bisa kubantah. Entah jarak atau waktu, tapi jiwa ini begitu kering merangkah bagai bunga yang nyaris mati.
Mungkin aku terlalu sensitif, entah sejak kapan aku mulai seperti ini aku tidak pernah tahu atau bahkan mungkin sudah terlalu tinggi kadarnya, bisa saja. Apa yang ada dalam benakku sama sekali bukanlah hal-hal yang selama ini aku bayangkan, bukan seperti ini. Hidup bagai jalan utama dengan banyak gang-gang sempit. Aku mungkin telah tersesat dalam satu gang dengan banyak lagi persimpangan di dalamnya. Tidak jelas lagi arahnya, bahkan hanya untuk kembali ke jalan utama tadi. Kembali kusandarkan diri pada gemilangnya suatu hari di masa lampau, sudah tidak berguna sama sekali pastinya.
Tunjukan padaku cara menyayangi
Agar tak telak kekalahan ini
Saat banyak tatapan tak henti menyerang
Ratusan perasaan mengaduk pikiran
Senyuman serasa tamparan dua arah
Saat dengan sinis dia menangkalnya
Mereka bilang aku hanyalah bayangan yang lamban
Saat sang tuan dengan lancar menarikan hidup
Aku berusaha menjawab dengan sedikit keberuntungan
Berharap bisa mengendalikan rasa
Penjawab tanya yang lama mengendap
Ajarkan aku mencintai
Cara sederhana untuk memarahi makna
Mengartikan kesedihan dan air mata
Berharap hujan datang untuk terakhir kali
Basah dan lembabkan jiwa yang panas
Aku berharap akan datang gerimis sekali lagi
Tinggalkan aku di padang pasir
Terombang badai dan kekeringan
Demi harap akan kujalani
Saat sebenarnya memaknai rasa dan kegalauan
Seperti apa memaknai hidup
Saat cobaan datang tak terbendung
Menerjang pantai ombak menggila
Sedikit harapan akan kuusahakan

Kamis, 13 Januari 2011

kerinduan

pada malam ketika rembulan mengikat janji bintang
ijinkan kutanam mawarmu di taman mimpi
di lembah cinta yang dibingkai pelangi

esok ketika kau terjaga
ceritakan padaku tentang taman bunga kita
tentang dua hati yang lebur jadi satu
tentang matahari keabadian yang merangkak perlahan
tentang kerinduan yang terus menggelora
tentang cinta yang tanpa jeda
tentang sejuta kupu-kupu kerinduan

gelora cinta bagai ombak mencium pantai
tiada kenal lelah mereka berpagutan

tapi kasihku
kerinduan ini rasanya mencekik jiwa
aku lelah mencumbui perihnya kerinduan

ingin kutelan waktu
agar aku bisa segera membelai wajahmu
membiarkanmu bersandar di bahuku
berbagi kegelisahan dan keresahan
mengurai beban yang menggantung
merasai detak jantungmu

ingin kubisikkan pelan ke telingamu
puisi indah tentang kehidupan
kebahagiaan yang ingin kita rengkuh
tentang cita-cita dan harapan
tentang indahnya salju keabadian
tentang hangatnya mentari yang merekah

ah itu hanya buaian..
Ya Allah aku percayakan semuanya padamu...